|
|
Dari Abu Musa ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda; “Siapa saja yang berjalan di masjid dan pasar sedangkan ia membawa anak panah, hendaklah ia menyembunyikan atau memegang ujungnya agar jangan sampai mengenai (mengganggu) seseorang di antara umat Islam” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah ra., berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu menjadi imam shalat bagi orang banyak hendaknya ia memperingannya (mempercepatnya), karena di antara mereka ada orang yang lemah, ada yang sakit, dan ada pula yang sudah lanjut usia. Apabila ia shalat sendirian, perpanjanglah sesuai dengan kemampuan” (HR. Bukhari Muslim)
Kedua hadis itu menjelaskan kepada kita, agar setiap muslim saling menghormati dan menyayangi, serta larangan untuk membebani mereka. Baca Selanjutnya
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika Allah menciptakan makhluk Ia menulis pada suatu kitab. Kitab itu berada di sisiNya di atas Arasy, bertuliskan:
‘Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan murkaKu” (HR. Bukhari Muslim)
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian. Sembilan puluh sembilan disimpan di sisisNya, satu bagian Ia turunkan ke bumi. Dari satu bagian itulah semua makhluk saling menyayangi sampai binatang itu mengangkat kakinya, karena khawatir menginjak anaknya:”
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, dan Ia menurunkan satu di antara seratus rahmat itu untuk jin, manusia, binatang, dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka saling menyayangi, dan dengan satu rahmat itulah binatang buas mempunyai rasa kasih sayang terhadap anaknya. Adapun rahmat yang sembilan puluh sembilan, Allah menyimpannya untuk diberikan pada hari Kiamat, sebagai rasa kasih sayang terhadap hambanNya” (HR. Bukhari Muslim)
Dikisahkan, dalam suatu peperangan beberapa tawanan dihadapkan kepada Rasulullah saw. Tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya. Ia mondar-mandir mencari-cari anakanya ke setiap kelompok tawanan itu. Setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan itu, maka segeralah dipeluknya, kemudian diangkat dan ia susuinya. Baca Selanjutnya
Ada seorang Majusi (penyembah api) melihat anaknya makan di pasar dalam bulan Ramadhan, lalu ia menghajarnya dengan pukulan, katanya:
“Kenapa kamu tidak tahu diri dalam bulan Ramadhan, yang seharusnya engkau pandai menghormati umat Islam yang tengah berpuasa?
Itu adalah sikap seorang majusi, seorang musyrik tapi ia tetap menghormati bulan Ramadhan. Jika kita melihat keadaan umat di negeri ini, yang kebanyakan beragama islam, bagaimana sikap mereka dalam menghormati bulan Ramadhan? Kita bias melihat bahwa warung nasi yang buka di siang hari adalah milik seorang muslim. Inilah lanjutan kisahnya.
Alkisah, orang majusi itu meninggal dunia, dan pada suatu malam seorang ulama bermimpi bertemu dengannya, ia berada di syurga, ketika ditanya: “Bukankah anda orang Majusi, kenapa berada di tempat ini?” Ia menjawab: “Betul, semula aku seorang Majusi, tetapi menjelang maut tiba, hatiku tersentuh untuk memeluk Islam, saat itu aku dengar seruan di atasku: “Hai para malaikatKu, jangan biarkan ia mati tersesat dengan agama Majusinya, angkatlah dia menjadi seorang muslim, sebab ia telah menghormati bulan Ramadhan” Baca Selanjutnya
Dikisahkan bahwa, suatu ketika Rasulullah saw. Pulang dari peperangan yang amat besar, yaitu perang Uhud. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Kita telah menyelesaikan perang yang kecil, dan akan memulai peperangan yang amat besar”. Para sahabat merasa keheranan, perang apakah yang akan dihadapi?. Padahal mereka baru saja pulang dari perang Uhud yang amat besar dan menggetarkan. Banyak dari kaum musilin yang gugur sebagai suhada. Tetapi Rasulullah saw. menyebutnya sebagai perang yang kecil, dan akan memulai peperangan yang besar. Kemudian para sahabat bertanya: “Perang apakah itu ya Rasulullah?”. Kemudian Rasulullah menjawab: “Perang melawan hawa nafsu”
Begitulah Rasulullah menyebutkan bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan perang yang amat besar. Para ulama mengatakan bahwa puasa adalah perang menundukan musuh Allah, sebab penghubung syetan adalah nafsu, dan nafsu menjadi kuat dengan makan dan minum. Maka dengan cara puasa inilah musuh dapat ditundukan.
Sehubungan dengan perang menundukan hawa nafsu, telah diceritakan tentang latar belakang diwajibkannya puasa, berikut ini: Baca Selanjutnya
Pada postingan saya sebelumnya tentang: Kedahsyatan Ramadhan, ada beberapa bagian yang perlu kita renungkan:
Pertama: Bulan Ramadhan merupakan bulan ampunan, akan tetapi dalam hadis itu ada empat golangan yang mendapat pengecualian, dimana merereka tidak akan mendapat ampunan dari Allah swt. Mereka adalah:
- Pecandu khomr (minuman keras)
- Orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya
- Orang yang memutuskan tali silaturahmi
- Orang yang saling bermusuhan
Kedua: Bahwa Allah telah menjadikan para malaikat sebagai saksi atas pengampunan kepada hamba-hambaNya. Pada hari kiamat nanti, ada empat macam saksi, yaitu: Baca Selanjutnya
Dari Ibnu Abbas bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya syurga itu diberi wewangian dan dihiasai dari tahun ke tahun untuk menyambut bulan Ramadhan.
Pada awal malam bulan Ramadhan , maka bertiuplah angin dari bawah Arasy yang bernama Almutsiroh, hal ini menyebabkan daun-daun pepohonan syurga dan gagang daun-daun pintu bergesekan sehingga menimbulkan dengungan yang sangat indah yang belum pernah didengar oleh siapapun sebelumnya.
Kemudian bermunculanlah bidadari dan berdiri di halaman syurga, lalu mereka memanggil: “Adakah orang yang memohon kepada Allah swt. agar Dia mengawinkanku dengannya?” Lalu bidadari itu berkata: “Wahai Ridwan, malam apakah ini? Ridwan menjawab: “Labaik”, lalu berkata: “Ini adalah malam pertama bulan Ramadhan”. Maka pintu-pintu syurga dibuka untuk orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad saw. Baca Selanjutnya
Dari Ibnu Abbas ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda mengenai orang-orang yang beri’tikaf, bahwa dia terjaga dari dosa-dosa, dan dituliskan baginya kebaikan-kebaikan sebagaimana orang yang berbuat kebaikan seluruhnya (HR. IBnu Majah)
Ada dua keuntungan melaksanakan I’tikaf, yaitu:
- Melaksakan I’tikaf seseorang akan terjaga dari berbuat dosa
- Dengan beri’tikaf seseorang banyak meninggalkan amal-amal kebaikan yang lain seperti, menengok orang sakit, mengantarkan jenazah, atau amal lainnya. Walaupun orang itu tidak berbuat kebaikan, akan tetapi ia tetap mendapat pahala-pahala semua ibadah yang terhalang akibat I’tikaf. Baca Selanjutnya
Dari Abu Said Alkhudri ra. bahwa Rasulullah saw. beri’tikaf pada 10 hari awal bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan pada 10 pertengahan di dalam sebuah kemah Turki. Kemudian mengulurkan kepalanya seraya bersabda: “Sesungguhnya aku telah beri’tikaf 10 awal bulan ini untuk mendapatkan Lailatul Qodar, kemudian 10 pertengahan. Kemudian dikatakan kepadaku bahwa Lailatul Qodar terdapat pada 10 yang terakhir. Maka barang siapa yang sekarang beri’tikaf denganku, hendaklah beri’tikaf pada 10 malam yang terakhir. Sungguh telah diperlihatkan mengenai malam (Lailatul Qodar) ini, tetapi kemudian aku terlupa (ciri-cirinya). Sungguh aku telah melihat diriku sendiri sedang bersujud di antara air dan tanah (lumpur) pada waktu shubuhnya. Maka carilah Lailatul Qodar itu pada sepuluh akhir, dan carilah ia pada setiap malam yang ganjil”. Abu Said Alkhudri ra. berkata: “Maka turunlah hujan pada malam itu. Dan masjid ketika itu beratapkan pelepah kurma, sehingga masjid tergenang air. Dan aku melihat dengan kedua mataku bekas-bekas air dan tanah menempel di kening Rasulullah saw. pada malam ke-21 Ramadhan. (HR. Bukhari Muslim)
I’tikaf adalah tinggal di dalam masjid dengan niat I’tikaf. I’tikaf terbagi dalam tiga macam:
- Itikaf wajib yaitu I’tikaf yang disebabkan oleh nadzar, seperti perkataan seseorang, “Apabila pekerjaan saya terpenuhi, maka saya akan melakukan I’tikaf sekian hari. Orang itu wajib beritikaf sebanyak hari yang ditentukan dalam nadzarnya.
- I’tikaf sunah yaitu I’tikaf selama sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana kebiasaan Rasulullah saw. beri’tikaf di sepanjang hari tersebut
- I’tikaf nafil, yaitu I’tikaf yang tidak ditentukan waktu dan harinya. Kapan saja diinginkan dapat dilakukan. Baca Selanjutnya
Dari Ubadah bin Shamit ra. sesungguhnya ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai malam Lailatul Qodar, maka Rasulullah saw. menjawab: “Lailatul Qodar itu terdapat pada bulan Ramadhan, pada sepuluh yang terakhir, pada malam-malam yang ganjil, atau malam ke 21, 23, 25, 27, 20, atau malam terakhir Ramadhan. Siapa saja yang berjaga malam untuk beribadah dengan iman dan berniat mengharapkan pahala di malam itu, maka diampunilah segala dosa-dosanya yang telah lalu. Di antara tanda-tanda malam Lailatul Qodar itu adalah malam itu terasa sunyi, sepi penuh ketenangan, serta bercahaya, tidak panas dan tidak dingin, seolah-oleh bulan memancarkan cahaya terang. Pada malam itu bintang-bintang di langit tidak kelihatan memanah (syetan-syetan). Keadaan ini tetap demikian hingga datangnya shubuh. Tanda-tanda lain adalah matahari akan naik tanpa memancarkan cahaya terang, muncul seolah-olah seperti bulan purnama. Pada hari itu Allah mengharamkan syetan naik bersama-sama matahari” (HR. Ahmad, Baihaqi)
Tanda-tanda khusus yang disebutkan dalam hadis itu adalah terbitnya matahari tanpa disertai cahaya yang menyilaukan. Itulah tanda-tanda munculnya malam Lailatul Qodar yang sudah terkenal. Berikut ini merupakan tanda-tanda lainnya berdasarkan pengalaman orang-orang yang beruntung mendapatkan malam Lailatul Qodar. Baca Selanjutnya
Dari Ubadah bin Shamit ra. Berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. keluar untuk memberi tahu kami mengenai Lailatul Qodar. Tetapi sayang pada waktu itu terjadi pertengkaran di antara dua orang islam, setelah itu Rasulullah saw. bersabda: ‘Aku keluar untuk memberitahu kapan munculnya Lailatul Qodar, tetapi sayang si fulan dan si fulan saling mencaci, sehingga penentuan mengenainya telah diangkat, barangkali itu lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh, dan kelima” (HR. Bukhari)
Kapan waktu munculnya Lailatul Qodar pada dasarnya itu merupakan Rahasia Allah. Para ulama telah menyebutkan beberapa hikmah mengenai dirahasiakannya malam Lailatul Qodar. Baca Selanjutnya
|
|